…PANTAI CAROCOK – west sumatera , indonesia>>>

This white sandy beach with a natural atmosphere. While on the side
many other fishing boats that lean is only made
atmosphere at this beach more attractive.

Located in the western town of Painan, located approximately 2 km from
Painan market; Object Tourism Beach area is also Carocok Painan
have a Rock Island that is connected with the end of the Mount
Langkisau. The island is called Pulau Batu Kareta. Formerly the Rock Island Kareta
can be achieved only when the tidal water, but now
built a bridge can be achieved when the island sehinggan saja.Sekitar
200 meters to the west coast of the island there are other Carocok
have historical value, Cingkuk Island. In this island can we meet
Portuguese Castle ruins. According to history, where the first Portuguese
times menjejakan feet on the coast is the island of Sumatra Island
This Cingkuk. Beside the ruins of the fort, visitors can also find
tomb of the Portuguese who made the inscription.————————————–

Pantai ini berpasir putih dengan suasana alam. Sementara di sisi
banyak perahu-perahu nelayan lain yang hanya dibuat ramping
suasana di pantai ini lebih menarik.

Terletak di barat bandar Painan, terletak sekitar 2 km dari
pasaran Painan; Objek Wisata Pantai daerah juga Carocok Painan
memiliki Pulau Rock yang berhubung dengan akhir Gunung
Langkisau. Pulau ini disebut Pulau Batu kareta. Sebelumnya kareta Rock Island
boleh semua hanya apabila air pasang surut, tapi sekarang
membina sebuah jambatan boleh semua ketika saja.Sekitar pulau sehinggan
200 meter ke pantai barat pulau terdapat Carocok lain
mempunyai nilai sejarah, Pulau Cingkuk. Di pulau ini kita bisa bertemu
Benteng Portugis runtuhan. Menurut sejarah, di mana yang pertama Portugis
kali menjejakkan kaki di pantai adalah pulau Pulau Sumatera
Cingkuk ini. Selain runtuhan benteng, pengunjung juga boleh mencari
makam orang-orang Portugis yang membuat prasasti.

PUNCAK LAWANG”.. west sumatera Indonesia

Located in Agam regency, Puncak Lawang is often used as
place to hold an international paragliding championship sports.
According to fans of paragliding, Puncak Lawang is the location
Southeast Asia’s best for these sports.

On top of that berketinggian ± 1210 m above sea level, we
can enjoy the beauty of the area of Lake Maninjau and the Indonesian Ocean.
Even as his admiration, the first President Sukarno was also
been made a poem about the beauty of the panorama of Lake Maninjau it.

Puncak Lawang To reach the area, we will pass travel

with 44 turns. That’s why this route is called serpentine Ampek Puluah
Ampek, who turns 44 in Indonesian language.

————————————————PUNCAK LAWANG

Terletak di Kabupaten Agam, Puncak Lawang sering digunakan sebagai
tempat diselenggarakannya kejuaraan olahraga paralayang internasional.
Menurut para penggemar paralayang, Puncak Lawang merupakan lokasi
terbaik di Asia Tenggara untuk olah raga tersebut.

Di atas puncak yang berketinggian ± 1.210 m di atas permukaan laut, kita
dapat menikmati keindahan kawasan Danau Maninjau dan Samudra Indonesia.
Bahkan karena kekagumannya, Presiden RI pertama Soekarno pun juga
pernah membuat puisi mengenai keindahan panorama Danau Maninjau itu.

Untuk mencapai kawasan Puncak Lawang, kita akan melewati perjalanan
dengan 44 belokan. Itu sebabnya rute ini dinamakan Kelok Ampek Puluah
Ampek, yang dalam bahasa Indonesianya tikungan 44.

Tari Piring

Vodpod videos no longer available.

more about "Tari Piring", posted with vodpod

Ranah Minangku “Setelah Aku Kenal Kamu, Lalu Aku Sayang Kamu dan Kini Cintaku Terpaut Kepadamu

Cintaku Terpaut di Ranah Minang, begitulah kata – kata yang terukir di hatiku, cinta mati dan telah mendarah beku di dagingku…
mmmm…“Sungguh suatu statement keberanian yang luar biasa yang pernah ku patrikan di diriku.
Kenapa aku berani menambatkan cinta suci ku buat ranah minang, ada beberapa alasan, tapi bukan alasan sebagian Orang Minang yang terkadang begitu gamblang dan berucap Ranah Minang Nan Tacinto, atau sederetan bait lagu yang penah dilantunkan oleh Elly kasim dan artis popular kelahiran minang lainnya.

Bagiku ungkapan Ranah Minang Tacinto bukanlah hanya sebuah ungkapan belaka, hanya manis di bibir, dilantunkan dalam sebuah lagu dan lain sebagainya, tapi ada beberapa hal yang klasik dan mendasar bagku diantaranya :
37 tahun lalu aku terlahir di Tanah Minang tepatnya di Bukttinggi, kota kecil, kota sejarah, kota beradat kota sejuk, kota muslim dan ada beberapa onggokan sebutan lagi, yang juga pasti hanya sebuah sebutan.

Kota Sejarah “Dalam rentang sejarah Indonesia Ranah Minang tepatnya dikota Bukittinggi pernah dijadikan sebagai ibukota Negara sementara dan tetap berkibarnya merah putih, yang kononnya merupakan sebuah alasan ke dunia luar bahwa Negara RI masih ada.
Kota Beradat “ Semenjak kecil aku dibesarkan dengan kasih sayang dari Ayah Jo Bundo Kanduang, dan dalam perlindungan, didikan serta pengawasan dari seorang Mamak /paman. Karna keberadaan paman tidah kalah penting dari kedua orang tua. Karna begitulah adat temurun yang ditinggalkan oleh moyang. Bagiku ini merupakan sebuah pengaturan tugas yang luar biasa yang ditinggalkan nenek moyang orang minang.

Dimataku Ayah Jo Bundo orang yang paling berjasa di kehidupanku, Mamak merupakan guru terhebat yang aku miliki, beliau orang – orang perkasa di bumi minang.
Pituah adat di minang yang pertama yang ditransfer di otak kecil sebelah kananku adalah sebuah ungkapan pasti yang tidak ada toleransi lagi yakni “ ADAIK BASANDI SARAK, SARAK BASANDI KITABULLAH” – SARAK MANGATO ADAIK MAMAKAI” ( adat bersendikan kepada aturan, aturan bersendikan kepada Alqur’an ),.. sungguh kata – kata indah yang bermakna sangat luar biasa dan dapat dipertanggung jawabkan di dunia dan akhirat. Karna menselaraskan kehidupan dengan ajaran agama Islam yang di tinggalkan Rasullullah S.A.W.

Selanjutnya, Ranah Minang / suku Minang Kabau adalah suku yang Berbeda, di seantero dunia adalah satu satunya suku yang paling berani mengakui keberadaan Bundo Kanduang sebagai penerus keturunan, biasa disebut dengan MATRILINIAL/ keturunan ibu. Fenomenal, spektakuler dan ide cemerlang yang pernah di ukir oleh moyangnya orang minang yang tetap awet terpelihara dan terpakai sampai detik ini.
Banyak sudah ilmuan yang penasaran kenapa bisa– bisanya beda? apa maksudnya keputusan ini? Mungkin juga termasuk anda semua yang sedang membaca ulasan tulisanku ini….hehehe
Jawabnya yaaa, begitulah adanya.

Bundo kanduang / ibu / kaum perempuan minang di muka bumi ini dinilai sebagai manusia lembut, mempunyai kasih sayang tulus membesarkan putra putrinya, tempat mengadukan keluh kesah anak,– anaknya, paubek sadiah palarai damam menjaga kesehatan dan kehormatan keluarganya, penjaga setia rumah gadang. Merupakan embanan tugas yang tidak ada tandingan beratnya, jadi kalau tidak adanya mereka maka habislah keturunan.
Kemudian aturan mainnya secara garis besar atau struktur job descriptionya diatur sebagai berikut :
Bundo Kanduang Penghuni Rumah Gadang tempatnya berlindungnya rang minang.
Ayah membantiang tulang memenuhi ekonomi keluarga agar Kedua Lumbuang di Rangkiang rumah gadang selalu terisi dan berkecukupan, dianggap kurang waktu dalam mencurahkan perhatian penuh terhadap keluarga.

Mamak pelindung angota keluarga dan pendidik bagi penerus keturunanya hingga kepuncak keberhasilan keponakannya dan penjaga seluruh harta pusaka keturunan.
Ooops…mungkin terlintas di fikiran pembaca, kalau adat minang itu ada beberapa yang keluar dari aturan Islam…….dengan spontan tanpa bersalah aku jawab “Tiada satupun” yang Menyalahi aturan Islam…
Jangan salah mempersepsikan keturunan ibu, sebab hal ini hanya ditetapkan dalan sarak keseharian semacam seorang Manager dalam sebuah perusahaan yang mengeluarkan Peraturan Persahaannya agar tercapai misi dan visnya, tapi selalu dalam koridor aturan – aturan agama, yang jelas keturunan darah tetap keturunan bapak sebagai wali tertinggi di keluarga, sesuai aturan agama Islam. mantaaap kan?

Kebaggaan berikutnya kepada Ranah Minang, pembagian dan kepemilikan harta yang arif dan bijaksana.
Harta di minang di bagi 3 macam:
1. Harta Pusaka Tinggi , harta yang dimiliki oleh suatu kaum suku – suku yang terdapat di adat Minang Kabau misalkan : suku Jambak, Guci, Pisang, Sikumbang dan lainnya.

2. Harta Pusaka Rendah, harta kaum yang telah di bagi kepada tiap – tiap keturunan dalam suku.
KEDUA harta diatas hanya boleh dinikmati, dipakai oleh kaum Bundo kanduang / perempuan, Namun perlu di pahami bahwa harta tersebut tetap merupakan milik laki – laki atau mamak kepala waris. Artinya : harta pusaka tersebut miliknya laki – laki dan di peruntukan untuk kaum perempuan minang agar keturunannya tetap bertahan sampai selama – lamanya. Alasannya setiap penetapan hak atas tanah pusaka akan dianggap sah jika telah di sepakati atau di tanda tangani oleh laki – laki / mamak selaku kepala waris yang sah…Betul ngak..????

3. Harta Pencarian Ayah dan Ibu. Adalah merupakan harta yang akan di wariskan kepada anak keturunannya yang dibagi secara Hukum Warisan sesuai ajaran Islam.
Seterunya Ranah Minang juga memiliki keunikan dan kemegahan yang perkasa, Memiliki Rumah Gadang / Rumah Bagonjong yang didepannya berdiri beberapa Rangkiang sebagai tanda kemaksyuran penghui rumah gadang. Kemudian Susunan Struktur Kepemimpinan Adat yang lengkap dan rapi, muali dari Raja sampai ke tingkat pimpinan paling bawah yang Selalu berpegang teguh dengan asas Mufakat dan musyawarah.

Contohnya : di dalam sebuah suku diminang dikepalai oleh seorang Datuak/ pengulu kemudian wakil, dan setersnya – seterusya.

Konon isunya Pemerintahan Demokrasi di Negara Republik inipun menerapkan Sistem Pemerintahan Struktur pemerintahan persis dengan yang ada di Minang kabau…..
Hahaha……demikianlah kuakhiri tulisan ini, mudah – mudahan kedepan Semua “GENERASI MUDA MINANG” bergabung menjadi Generasi Bangga Jadi Rang Minang…

Jam Gadang Saksi Bisu Bukittinggi ku

Minggu diambang sore, di pelataran jam gadang,aku duduk melepas penat setelah seharian mengunjungi Taman Panorama, Lobang Jepang, Ngarai Sianok, Benteng Peninggalan Belanda, kebun Binatang Kinantan seterusnya menaiki Jenjang 40 menuju Pasar Atas , Pasar Bawah. “Sunguh Indah dan menawan alam Bukittinggi ” pantas selalu dilewa – lewakan dan dibanga – banggakan akan keindahannya kepada para turis se antero dunia.

Sembari melepas pandang ke sekitar taman di jam gadang, aku mengambil Handycame recorder aku yang juga ikut mengabadikan keindahan alam Bukittingi.
Senja mulai merangkak menemui malam, aku masih menikmati duduk asyik mengamati hasil liputan kameraku tadi. Satu persatu hingga keakhir liputanku.
Kemudian Aku ambil sebatang rokok dan sebotol Air mineral berharap dapat menenangkan sesak nuraniku, sejenak kemudian aku dikagetkan dengan dentingan detak jam gadang, seakan mengusik detak jantungku juga.

Seakan Detak Jam Gadang sedang Berdialog dengan jantungku….”Mengungkapkan beberapa kegelisannya, lalu dia berkata “ TAK ADA YANG BEROBAH DALAM PENGAMATANKU, TAK ADA PENGEMBANGAN DI ALAMKU, MEREKA TELAH MEMANFAATKAN KAMI, TAPI MEREKA TELAH LUPA MENGINGAT KAMI, TAK LAMA LAGI KAMI MUNGKIN AKAN JADI SIJOMPO YANG TAK DI URUS……

Dalam sungguh dialog itu bak belati menyambar leherku, bak halllintar menyambar tubuhku. Baiklah Ranah Bukittinggi Ku tercinta, akan ku kabarkan berita ini ke seluruh orang di kota Mu…

Aku masih menebak – nebak maksudnya, BARANGKALI: Karna disampingnya telah berdiri bangunan mewah pasar modern yang tak berdosa, sementara pasar atas masih mempertahankan kekokohannya yang sudah uzur, atau juga karna Pohon – pohon rindang dan pemandangan hijau di sepanjang jalan kotaku telah tergantinya dengan ruko – ruko bak gerbong kereta apiku yang telah lama pensiun.
Barangkali juga Ngarai Sianokku yang telah ihklas berubah wajahnya dikarenakan gempa, namun tidak menolak pengabdiannya untuk selalu setia menafkahi pariwisata alam dan perekonomian saudara – saudaraku, walupun tak ada hal yang berarti yang pernah di benahi di panorama dan ngaraiku. Lobang Jepang yang selalu Tersenyum manis mengucap Selamat Datang bagi para pengunjungnya, walau dia tahu sambutannya penuh dengan kekurangan dengan fasilitas dan kenyamanan tamu -tamunya….banyak lagi mungkin hal yang sama yang mesti kita dengar dari objek wisata alamku yang lain.

Atau mungkin juga keramah tamahan saudara –saudaraku yang selalu mengukur waktu dan menilai tamu hanya dengan uang dan sekedar pitih masuak….buka parkir dan retribusi tarif yang tak wajar. Juga mungkin karna pusing melihat Mobil angkot yang seperti pawai lalu lalang di sepanjang samping trotoar jalur kotaku, sementara bendi dan kendaraan traditional yang merupakan khas kotaku mulai terlupakan, menunggu nasibnya yang juga belum punah.

Atau…juga barangkali karna Masyarakat dan Pemimpin kotaku masih belum sanggup menerima dan sadar kalau negerinya telah jadi Kota PARIWISATA YANG TELAH TERSOHOR KEPELOSOK DUNIA….walaupun yang pada kenyataannya Tak ada yang menonjol dan specific yang dicari wisatwan selain memandang alam – alamku, yang mereka kenal dan dijadikan oleh – oleh dan kenangan hanya Kerupuk sanjai dan rendang, padahal banyak sajian kuliner unik seperti Gulai kapau, katupek, pical, ondeh – ondeh, lamang tapai, kalamai gegek, pinukuik dan pical yang sangat berbeda, ada juga yang jual di pasar bawah tapi mereka terpencar dan tidak ditempatkan pada suatu tempat khusus, memang ada los lambuang di pasar lereng namun belum mencerminkan service pariwisata, walaupun diatasnya berdiri bangunan yang konon namanya pasar wisata yang kini telah tersulap menjadi tempat penjual kain bekas / boutiq nya rang awak, hehehe,

Dii tambah lagi Suasana malam yang terasa sangat pendek, tak ada hiburan tradisional rakyat lagi, pasar malam, lantunan talempong dan bunyi bansi, yang ada hanya café – café dan entertainment dan konser – konser musik modern, yang seakan – akan kita dan perantau tiba dikampuangnya merasakan sedang di rantau.…?!?? dan ??? Entahlah ,

Ooo… mungkin juga MASIH RAGU – RAGU menentukan pilihan predikat julukan kotaku, entah Kota Paiwisata? walau orang luar telah tahu itu, Entah Kota Pendidikan, Entah Kota Industri dan perdagangan, Entah Kota Modern, dan Entah..Entah…Entah yang lainnya. ?????.

Baiklah………melalui tulisanku ku ini aku kabarkan kepada saudara – saudaraku warga kota dan bapak Walikotaku yang Tercinta sekarang , dan yang akan menang dalam bertarung di pilkada nanti, serta saudara – saudaraku yang telah jadi pemenang yang kini duduk di kursi Dewan yang terhormat, walau hanya melalui pesan, intermezzo atau ciloteh terserah anda meng artikannya, hanya melalui medya ini yang baru bisa kulakukan, tak apa la yah!!! karna aku orang kecil yang tentulah aneh jika buat janji ngobrol dengan anda, kupikir tindakanku ini sah – sah saja karna telah mengabaikan birokrasi untuk dapat bertemu secara langsung, Saya sadar dan maklum karna anda orang sibuk dan mengemban tugas berat untuk kota dan negeriku. Aku percaya dan Optimis ditangan anda dan kita semua, masyarakat kotamu akan menuju kesejahteraan…AMIN.

“ BANTULAH KAMI UNTUK MEMENUHI JANJI KEPADA JAM GADANG ”

Bukittinggi, 9 Desember 2009 | note: didi-orangemytraveling/ bkt

“Kerinduan Gadis Minang di Parantauan”

Darah Minang yang melekat ditubuhnya telah membesarkan harapannya dan ketegarannya di perantauan. Sangat pilu dan aneh tatkala darah itu tak lagi begitu mengenal ranahnya yang elok dan bersahaja, Walaupun dan mungkin sesekali tergetar bangganya ketika saat – saat mendengar sayup Saluang, bansi dan talempong yang mengumandang hanya di parade dan pagelaran budaya..

Dia hidup hanya dalam keindahan fatamorgana syurga ranah minang. Dia tak tahu dan juga mungkin tak pernah tahu bahwa begitu berartinya dirinya sebagai penerus generasi di rumah gadang bagonjong di kampungnya dan juga begitu diharapkan kahadirannya sebagai bundo kanduang penunggu bilik – bilik ruang rumah gadang.
Tak banyak yang bisa kita amati dari Si gadis yang besar di perantauan orang, mengaku pewaris minang akan tetapi tidak mengenai budaya moyangnya.

Adakah dia mampu untuk mndobrak tembok sejarah yang kian tebal menghalangi langkahnya ke kampung halaman atau Seberapa besarkah ketakutannya kelak jika ranah minang kampungnya hanya sebagai tempat untuk mereka yang berperan sebagai pelancong saja……
Ooooh, penulis dan semua pasti sama gelisahnya membayangkanya……………………

Penulis tak tahu entah pada siapa harus ditujukan pukulan palu atas kelalaian dan keteledoran untuk mengakui kita si darah minang sejati ? padahal yang kita rasa pasti wajib untuk memperkenalkan ke elokan ranah minangnya serta budayanya ke anak cucu penerus, kepada orang tua kah, dunsanakkah dan family kah atau KEPADA : ………”MAMAK ORANG MINANG YANG TIDAK LAGI BANGGA JADI PEWARIS MINANG “……..

Bukittinggi, 11 desember 2009 | didi-oranemytraveling |

T.i.p.s..”Mencari Seorang Pemimpin Negeri

Tidak disangkal lagi sebenarnya kita sangat butuh sosok pemimpin di daerah, krisis
multi sektor yang berkepanjangan harus segera dipulihkan oleh figur
pemimpin yang mampu memadukan seluruh potensi masyarakat, bukan sosok
pemimpin yang mementingkan diri sendiri atau kelompoknya semata.

Perlu kita telaah: Selama ini kita telah menangkap sinyal bahwa elit pemimpin di daerah
hanya mengejar jabatan demi mementingkan kelompok dan dirinya saja,
tanpa sanggup menjalankan dan mempertanggungjawabkan kepemimpinannya,
khususnya dalam bidang perlindungan buruh.

Raport merah atas kepemimpinan di daerah selama ini telah menyesakan
dada kita kaum buruh, lihatlah tentang penetapan upah minimum yang
rendah, yang tak pernah menyetuh level upah layak, atau tidak adanya
kontrol yang tegas atas penyelewengan-penyelewengan yang terjadi,
sehinga derita buruh terus terulang dari masa pemerintahan daerah yang
satu ke masa pemerintah daerah berikutnya.

Pesta atau Ajang pemilihan kepala daerah (PILKADA), adalah ajang kita untuk
berkiprah dan turut andil dalam menentukan siapa pemimpin daerah yang
tepat. Kita harus pandai-pandai mengukur kemampuan calon pemimpin
daerah kita.

Setiap orang yang merasa mampu bisa mencalonkan diri jadi kepala
daerah, tidak ada larangan! Bisa saja calon kepala daerah adalah
seorang ketua RT, pedagang pasar, penarik becak atau siapapun, baik
yang diusung partai politik maupun non partai (independent), persoalan berikutnya adalah apakah nanti setelah ia menjabat kepala daerah dia mampu membuktikan kinerja dan tanggungjawab (mas’ulun)
yang baik dan optimal ? apakah sanggup untuk meningkatkan kesejahteraan
warganya? Atau jangan-jangan nanti hanya jadi bulan-bulanan dan
penghinaan warga saja karena justru memperparah penderitaan warga.

Oleh karena itu, sebelum kita yakin untuk memilih seorang kepala
daerah, pelajari dulu track record-nya, kenali dulu orangnya, ketahui
dulu apa program-programnya, seberapa jauh kelompoknya mengendalikannya
dll. Karena kalau kita salah memilih, bukan mustahil penderitaan kita
akan terus bertambah parah.

Ingat….. jika kita salah memilih pemimpin, bukan hanya pemimpin
terpilih yang akan diminta pertanggungjawaban, namun kita juga sebagai
pemilih ikut berdosa dan akan diminta pertanggungjawabannya oleh Tuhan
Yang Maha Kuasa.

HATI – HATI MENENTUKAN PILIHAN PEMIMPIN KITA