This slideshow requires JavaScript.

|| catatan sipengikut rombongan Turis di Ranahminang ||
Pesawat Air Asia dari Kuala Lumpur mendarat di Bandara Internasional Minangkabau. Guide dari agen perjalanan ORANGE TAMASYA TOURS menjemput tamunya, sekitar 40 turis Malaysia di ruang tunggu bandara.Turis Malaysia yang datang kali ini berasal dari sebuah perusahaan di Kuala Lumpur, didominasi perempuan yang mengenakan jilbab dan beberapa perempuan keturunan India.Setelah naik bus.
Perjalanan wisata pun dimulai. Saya juga ikut di dalamnya, ingin melihat paket wisata yang ditawarkan untuk wisatawan negeri jiran ini. Keluar dari Bandara, dengan mikrofon di tangan, Guide mulai menjelaskan kemana saja agenda untuk tamunya selama empat hari di Sumatera Barat.”Namun yang paling penting untuk Puan dan Tuan, kalau sudah sampai di sini, tolong jangan panggil orang di sini dengan sebutan Indon, nanti bisa tersinggung,” kata guide mengingatkan.Saya sedikit geli, karena orang Minang tidak banyak tahu dengan istilah Indon yang dipakai orang Malaysia untuk menyebut dan merendahkan TKI (Tenaga Kerja Indonesia), karena TKI jarang dikirim dari sini.
Sampai di Pasar Usang, Bus berhenti, Tour Guide mulai ‘jual kecap” Puan dan Tuan, kita berhenti dulu di sini kebun pisang milik saya dan saya akan ambil pisang untuk tuan dan puan dulu ya,” katanya keluar bus dan masuk ke sebuah kedai penjual pisang.
Tak lama Guide masuk ke bus dan membawa dua tandan pisang manis masak di batang yang berwarna kuning cerah dan rupanya amat menggiurkan turis negeri jiran itu. Mereka berebutan minta pisang.Aha,..pastilah guide terinspirasi objek wisata kebun pisang di Puerto Riko sampai-sampai mengaku-ngaku memetik pisang dari kebunnya sendiri. Boleh juga, karena di Pasar Usang memang banyak pohon pisang dan tak ada salahnya imanfaatkan juga untuk objek wisata banana tree.
Sepanjang perjalanan Guide tak berhenti bercerita tentang objek-objek wisata dan tentang budaya Minangkabau Pengetahuannya cukup lumayan mulai dari menjelaskan soal bekas Kota Tambang Sawahlunto hingga ke soal adat matrilinial yang dianut masyarakat Minangkabau.
Menikmati Air TerjunSampai di Lembah Anai, wisatawan diajak menikmati kesegaran air terjun. Mulailah terdengar decak kekaguman dari mulut mereka.”Wah,cantiaknye waterfall tu, boleh tak kita mandi-mandi?” kata Nur Azizah yang sebangku dengan saya.Saya katakan cukup merendam tangan dan cuci muka saja, karena pasti tak banyak waktu untuk mandi.Akhirnya, selama 30 menit mereka menikmati Lembah Anai dan berfoto-foto di bawah air terjun sampai basah.

Perjalanan dilanjutkan makan siang di Restoran Minang Pak Datuk di Padangpanjang. Menunya, masakan Padang yang sudah tidak asing bagi wisatawan itu, mulai dari rendang, ayam pop, gulai ikan, dan masakan minang lainnya.Di belakang rumah makan terdapat areal Minangkabau Village yang luas, wisatawan dibawa ke Pusat Dokumentasi Minangkabau yang di areal objek wisata itu. Di gedung pusat dokumentasai berupa rumah gadang bagonjong ini wisatawan dijelaskan tentang adat minang dan di sana juga bisa mencoba baju adat minang dan berfoto.Biasanya aktivitas ini dilakukan di Istana Pagaruyung di Batusangkar, namun Istana Pagaruyung terbakar tahun lalu, saat ini sedang dibangun kembali.Sekitar 10 kilometer menjelang Bukittinggi pemandu wisata mengumumkan bus akan berhenti di tempat wisatawan yang ingin belanja kain bordir dan sulaman, atau tenunan songket oleh-oleh yang khas Ranah Minang.Mereka akan dibawa ke kampung tenunan songket Pandai Sikek, di kaki Gunung Singgalang. Di sini puluhan toko tenunan songket menjual songket buatan tangan itu. Di kampung songket ini wisatawan juga bisa menyaksikan proses pembuatan tenunan songket Pandai Sikek dengan helai demi helai benang untuk membuat selembar songket yang dijual mulai Rp700 ribu sampai Rp7 juta per lembar.

Salah satu pengusaha tenun songket Pandai Sikek Erma Yulnita mengatakan, tiga tahun terakhir memang banyak wisatawan asal Malaysia yang datang ke tempatnya.”Kalau sedang musim liburan, bisa puluhan bus pariwisata setiap hari dibawa ke galeri saya, bukan hanya wisatawan dari Malaysia, tetapi juga wisatawan Belanda, tapi paling banyak dari Malaysia,” kata Erma.Erma pun pintar melayani wisatawan Malaysia yang datang. Di atas meja ia menyediakan minuman botol dan aneka makanan kecil khas Sumatera Barat seperti rakik maco, gelamai, keripik, hingga kue sagun yang dilahap wisatawan Malaysia sambil menonton cara pembuatan songket. Semua cemilan itu gratis.Hasilnya, saat pulang mereka sudah menenteng kantong belanjaan dari rumah Erma.”Sehari transaksi di sini bias sampai Rp40 juta, namun itu tidak setiap hari, hanya saat-saat liburan saja,” kata Erma.Usai belanja, rombongan wisatawan ini diantar ke HOTEL GRAN MALINDO di Bukittinggi. Sorenya, wisatawan itu diajak melihat objek wisata Ngarai Sianok dan Lubang Jepang di Bukittinggi serta berfoto di Jam Gadang maskot Kota Bukittnggi pada malam hari.Roslina, seorang wisatawan Malaysia yang ikut rombongan mengatakan berkesan mengunjungi Bukittinggi.”Saya lihat di sini sangat natural dan indah, kain yang dijual juga banyak macamnya, saya sampai membeli banyak untuk dipakai sendiri,” kata perempuan cantik yang berjilbab ini.Dibandingkan daerah wisata di Malaysia, menurut Roslina, daerah wisata di Bukittinggi kurang ada kegiatan, namun alamnya indah.”Kalau di Negeri Sembilan, melihat kelip-kelip (kunang-kunang) di Sungai Timun saja dijadikan tontonan turis, tetapi saya ingin kembali ke sini lagi, alamnya elok, saya mau datang bersama kawan-kawan, karena sudah tahu jalannya,” kata Roslina. Guide, sang pemandu mengatakan keesokan harinya wisatawan ini akan dibawa ke Danau Maninjau.”Bila hari cerah, kami berangkat pagi dan makan palai rinuak di tepi Danau Maninjau, mau ikut?” tawarnya.Saya terpaksa menolak. Namun cukup memuaskan bisa menyaksikan wisatawan Malaysia menikmati liburannya di Sumatera Barat.Apalagi saat ini pegiat wisata di Sumatera Barat juga sedang menikmati ramainya kedatangan turis-turis asal Malaysia yang dibawa Air Asia 10 kali penerbangan dalam seminggu. Sebulan diperkirakan 3.500 turis Malaysia yang berwisata ke Sumatera Barat…

—————————————————————
Gambar : erison j. kambari
Milis : padangkini
| didi -orangemytaveling | April 2010 |

Advertisements