Darah Minang yang melekat ditubuhnya telah membesarkan harapannya dan ketegarannya di perantauan. Sangat pilu dan aneh tatkala darah itu tak lagi begitu mengenal ranahnya yang elok dan bersahaja, Walaupun dan mungkin sesekali tergetar bangganya ketika saat – saat mendengar sayup Saluang, bansi dan talempong yang mengumandang hanya di parade dan pagelaran budaya..

Dia hidup hanya dalam keindahan fatamorgana syurga ranah minang. Dia tak tahu dan juga mungkin tak pernah tahu bahwa begitu berartinya dirinya sebagai penerus generasi di rumah gadang bagonjong di kampungnya dan juga begitu diharapkan kahadirannya sebagai bundo kanduang penunggu bilik – bilik ruang rumah gadang.
Tak banyak yang bisa kita amati dari Si gadis yang besar di perantauan orang, mengaku pewaris minang akan tetapi tidak mengenai budaya moyangnya.

Adakah dia mampu untuk mndobrak tembok sejarah yang kian tebal menghalangi langkahnya ke kampung halaman atau Seberapa besarkah ketakutannya kelak jika ranah minang kampungnya hanya sebagai tempat untuk mereka yang berperan sebagai pelancong saja……
Ooooh, penulis dan semua pasti sama gelisahnya membayangkanya……………………

Penulis tak tahu entah pada siapa harus ditujukan pukulan palu atas kelalaian dan keteledoran untuk mengakui kita si darah minang sejati ? padahal yang kita rasa pasti wajib untuk memperkenalkan ke elokan ranah minangnya serta budayanya ke anak cucu penerus, kepada orang tua kah, dunsanakkah dan family kah atau KEPADA : ………”MAMAK ORANG MINANG YANG TIDAK LAGI BANGGA JADI PEWARIS MINANG “……..

Bukittinggi, 11 desember 2009 | didi-oranemytraveling |

Advertisements